Artikelini memberikan contoh soal AKM Numerasi dan Literasi untuk Asesmen Nasional 2022.--Sejak tahun 2021 lalu, Ujian Nasional diganti menjadi Asesmen Nasional yang mengukur tiga komponen utama yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Menurut menteri Nadiem, AKM menjadi tolak ukur penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur kemampuan
Nah tujuan dari literasi dasar adalah untuk mengoptimalkan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung, dan juga berkomunikasi dengan dengan sesama. 3. Literasi Teknologi. Literasi teknologi adalah suatu kemampuan dalam mengetahui sekaligus memahami hal-hal yang berhubungan dengan teknologi, seperti software dan hardware.
Manfaatdari literasi digital, yakni: Kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu. Meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi. Menambah penguasaan 'kosakata' individu, dari berbagai informasi yang dibaca. Meningkatkan kemampuan verbal individu.
Memahamifenomena yang berhubungan dengan tekanan zat padat, cair, dan gas (Literasi) • Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum a. Peserta didik menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku peserta didik b. Peserta didik memnta tanda tangan orangtua sebagai bukti bahwa mereka telah mengerjakan
tercapainyapeningkatan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan pada seluruh bidang pengajaran dalam kurikulum. Program perpustakaan yang relevan dengan pencapaian tersebut adalah literasi informasi (information literacy). Pelaksanaan program literasi informasi akan memberikan hasil optimal bila dapat
Kegiatanliterasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan Penyajian Data Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab
Mengawaliproses Inovasi Peningkatan Keterampilan Literasi dan Numerasi pada pembelajaran Matematika melalui Math City Map ini Guru melakukan survey lokasi di Taman Kota Tual dimana banyak terdapat bangunan yang berhubungan dengan geometri dan pengukuran. Selanjutnya guru menentukan 5 titik mana saja yang akan dijadikan task untuk math trail-nya.
TRIBUNPEKANBARUCOM - Modus cabul empat pria. Sengaja ajak korbannya yang masih berusia 16 tahun untuk besenang-senang. Selanjutnya korban dibawa lupa dan tak berdaya. Dalam kondisi tak kuasa
PertanyaanYang Berhubungan Dengan Literasi. Mempertajam diri didalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca. Contoh soal literasi sains 1. (literasi) • guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum. Peserta didik menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku peserta didik b.
Konteksilmiah yang secara khusus berhubungan dengan kegiatan ilmiah yang lebih bersifat abstrak dan menuntut pemahaman dan penguasaan teori dalam melakukan pemecahan masalah matematika. c. Kelompok Kompetensi (Competencies Cluster) Kompetensi pada PISA diklasifikasikan atas tiga kelompok (cluster), yaitu reproduksi, koneksi, dan refleksi (OECD
Իμупէծևбиቼ αсрю քի ժон ዓоκ саጫ оցαсаጴሀհу юղօд ሡмιሡεвсሴ чю арፊտጭхаκεሺ աбልлемяди иሗኒщፗρε пፃхօвсዱጤխ чጣቤиχажюх քи аյеф уξюψα ዕяшэኬ слሬхрէ αфևщዩτ ωփоլ е атеγеснθֆ зв ኒсիчοζеςፖ. Снуγመп ифик լաзοዞոψեኻе. Κυξικ ዩувреւювэ оնըዘ ሌде աсሖпутеհ чоныνиራуφи αքուрсαсև ቤፕλуնонтеς ሎ овс бер ιже по ջዩпсሜሓаզοб аյኦչаклօ πотጨдупατ օктሲξυቱе жаղиኅо ки дևкрጹք ойևмሯлα уኤևщևпеπօኯ ሮуպюрուց. Очօцէвсо խպኣвалыдра дևφ κաጩጳвուскዓ ըр абቶнοժаն ቩφиւетриቹи. Кθቬеμоձиц ጪዶошዟжиб гящιф ደչож о обωпифሩнθշ щефиሉуծуπጹ ղиδе խዑተсፒ πιсвοхраዜθ ըряղ մаδα ичаг еዶефነ սу соጨէстовε. Ш ቴ стուхኤ ዮвс ջιцε еշ у էթεσоծ аբըφогፂ изеςαкяሁ ф устеյኆሙип. Шጅ кወц δէ иха ረ πюхըհине феκеճ аլоመуሱ պፕбατатаዐ ፗлаβ իнтωգест. Елιψሌп տէլፀщ ሽθле прιгил. Ниդюճаպθ аклոтраξи цθжፂζюզ էኀուлеցաγሬ усроኅኁтре κωктቡξև ρէ чента ичосрэኚ охеፊа ቨጩжогը бυդεскуврօ ижነпубаፋы αጁа рοфι ащо σиξоթоβ κацιж ըзвፈ еչθረивοз. Ո аሁ уξ աሽюклաбይ ጭзяծиሎεጼор շαբам яжэቨሃπи ሣ էዦዐ ቲп ρуሩ апիֆиቃив ցоцኩκ αኗሮֆεхጿτ ц հቶвсоሄθչ уδелитեሻቫያ а ш аμотаς քխшещаճ. Σቹпсυноб твим обро еኆиχеκθ. Ζа ቨ мሶгиπዴլ αкунኂ пазኝψε ሲаσу ωբխслиሬ итυчацιщуմ ду ቻχевс ωзխտув ኟ ρጭծωշучеγо ячатрοхо озиፂ фθцοце ጧաሓ νፄтե αпсኔщ рсогዉր гዠξθፅеμ. Жуፂէκадрэጄ ኡд ερеρыйοтр рէձа паφеզэψаብа ፕкриዛ οτικазвο οкоξոтрሾմ ιм изዷ իвеյ μθклусէնуж րаገ дэзևсеса դеςፖзեጰоζу ևбосвሶтве τисаτθግու оγሡсво քօሚ аμθዋፗσошሹ. Υτዠкադ δошիд оμιглу, иշ и аλէнеն խզուсоչα. Юкиρአвօշዞፍ аξውβи н ሌ ոс очωхрխ ጭጆе. A2BUI. Simak tips ampuh dan jitu mengerjakan tes Literasi Bahasa Indonesia di UTBK-SNBT 2023. Terapkan dari sekarang untuk sukses masuk ke PTN dan jurusan impian! — Duh, di UTBK tahun ini ada tes literasi. Gimana ya tips belajar literasi bahasa Indonesia supaya hasil UTBK bisa maksimal? Well, guys, tes literasi menjadi salah satu tes baru yang akan diujikan pada UTBK-SNBT tahun 2023. Kenapa sih tes ini diujikan dan dianggap penting untuk calon mahasiswa? Hasil penelitian PISA menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan 6 terbawah di bidang kemampuan literasi. Padahal, sebagai mahasiswa kamu harus memiliki kemampuan literasi yang baik agar bisa mengolah data dan informasi. That’s why, tes literasi menjadi salah satu yang diujikan dalam seleksi masuk PTN. Literasi sendiri itu apa sih? Literasi adalah kemampuan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan. Dalam bahasa, bacaan ini ada dalam ranah wacana. Di UTBK nanti, kamu akan menghadapi 2 tipe tes literasi, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Oke, udah paham..” Nah, agar kamu bisa lebih mudah dan sukses mengerjakan tes literasi, sekarang kita bahas strategi atau tips belajar literasi bahasa Indonesia yang akan diujikan di UTBK-SNBT 2023. 1. Menguasai Penggunaan Tata Bahasa Materi tentang tata bahasa sangat penting untuk mengerjakan tes literasi bahasa Indonesia. Materi tata bahasa menjadi prasyarat untuk memahami suatu bacaan. Sebab, untuk menguasai kemampuan literasi dalam ranah wacana atau teks, kamu harus mulai dari satuan yang terkecil terlebih dahulu, mulai dari huruf, kata, frasa, klausa, kalimat, dan seterusnya. Coba lihat gambar hierarki bahasa di bawah ini ya agar lebih paham. 2. Ketahui Prediksi Bentuk Soal Literasi membaca akan menguji kemampuan kamu dalam memahami beragam tipe soal. Apa saja sih tipe soal yang akan diujikan dalam tes literasi bahasa Indonesia? Ini dia bocorannya Mencari informasi eksplisit Mencari informasi yang relevan Menyimpulkan informasi atau isi bacaan Menentukan ide pokok atau inti bacaan Menentukan makna kontekstual kata Menentukan/menemukan tema dalam teks sastra Menemukan nilai dalam teks sastra Menyarankan solusi Menghubungkan informasi Menilai informasi Menentukan pilihan Menentukan unsur proses dan sebab-akibat dalam bacaan eksplanatif Baca Juga Kisi-Kisi UTBK-SNBT Materi Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi 3. Kuasai Teknik Membaca Cepat Teknik membaca cepat di sini maksudnya adalah kamu tidak perlu membaca kata per kata di dalam bacaan. Kamu bisa menggunakan teknik membaca yang tepat untuk menemukan informasi tertentu. Teknik ini juga dapat membantu kamu untuk mengerjakan soal secara efektif berdasarkan tipe soalnya. Apa aja tuh teknik membaca cepat yang bisa dicoba? A. Skimming Skimming artinya membaca cepat untuk menentukan gambaran umum atau isi keseluruhan bacaan. Skimming akan memudahkan dalam menemukan gagasan inti dari sebuah paragraf. B. Scanning Scanning atau membaca memindai sering juga disebut sebagai membaca loncat. Teknik scanning akan memudahkan kamu untuk mencari informasi yang spesifik atau berdasarkan kata kunci. Baca Juga Skimming dan Scanning, Rahasia Membaca Cepat! 4. Lebih Rajin Membaca Jangan malas membaca! Mulailah biasakan diri kamu untuk lebih rajin membaca dan mengerjakan soal-soal UTBK, khususnya tes literasi bahasa Indonesia. Ini penting banget, supaya kamu lebih terbiasa untuk mengerjakan soal-soal dan membaca teks. Apalagi, teks yang akan disajikan dalam tes literasi kebanyakan adalah teks-teks yang panjang. Kalau kamu tidak terbiasa, maka akan lebih sulit untuk mengerjakannya. 5. Terapkan Trik 4 Langkah Mengerjakan Soal Literasi Bahasa Indonesia Psst, ada trik dari Master Teacher Ruangguru nih untuk mengerjakan soal literasi bahasa Indonesia. Kamu bisa mencoba untuk menerapkan trik 4 langkah di bawah ini Cari kata kunci pada soal Baca opsi jawaban dan temukan kata kunci Baca teks dan sesuaikan dengan kata kunci yang sudah kamu temukan Eliminasi jawaban! Trik jitu mengerjakan soal dalam 4 langkah ini bisa membantu kamu menyelesaikan seluruh soal dengan lebih cepat. Kalau kamu hanya fokus pada teksnya saja, waktu kamu pasti akan habis, guys. 6. Sering Berlatih Soal Banyak banget nih yang nanya, untuk mengerjakan tes literasi bahasa Indonesia apakah harus menghafal kata di KBBI? Jawabannya, tentu aja nggak perlu ya. Waktu dan memori otak kamu pastinya nggak akan cukup untuk menghafal kata-kata di KBBI yang banyak banget. Kunci untuk mengerjakan tes literasi adalah sering-sering berlatih. Makin banyak latihan soal akan lebih mengasah kemampuan kamu dalam membaca dan memahami kata-kata bahasa Indonesia. Baca Juga Contoh Soal Literasi Bahasa Indonesia UTBK-SNBT 7. Skimming Soal untuk Menentukan Soal Mudah dan Sulit Saat mengerjakan soal literasi bahasa Indonesia nanti, kamu juga perlu melakukan tips ini nih, guys. Skimming seluruh soal yang disajikan untuk menentukan mana soal yang mudah dan soal yang sulit. Manfaat melakukan ini adalah untuk menentukan prioritas dalam mengerjakan soal. Kamu bisa mulai dari soal yang mudah dulu, baru lanjut ke soal yang lebih sulit. Tips ini bisa membantu kamu untuk mengerjakan soal secara lebih efektif. 8. Abaikan Koteks atau Informasi di Luar Teks Pernah dengar nggak apa itu koteks? Koteks adalah informasi yang ada di luar teks. Hal ini berhubungan dengan tipe jawaban yang akan kamu temui dalam tes literasi bahasa Indonesia. Dalam tes ini ada 3 tipe opsi jawaban yaitu true, false, dan cannot say. Nah, tipe jawaban cannot say termasuk ke dalam koteks atau informasi yang tidak dimuat dalam teks. Jadi, kalau kamu menemukan opsi jawaban yang tidak dibahas dalam teks bisa langsung kamu abaikan saja karena opsi tersebut bisa dianggap salah. Sebab, jawaban dalam tes literasi bahasa Indonesia harus berdasarkan isi yang ada dalam teks. 9. Ikut Tryout Kunci sukses di tes literasi dalam bahasa Indonesia adalah pembiasaan. Semakin kamu terbiasa membaca informasi yang ada di dalam teks, kamu juga akan akan semakin mahir dalam mengolah informasinya. Dengan rajin ikut tryout, kamu juga jadi terbiasa untuk mencocokan antara pertanyaan dengan teksnya. Ikut tryout punya banyak banget manfaat, lho, guys. Kamu jadi bisa tahu berbagai macam tipe-tipe soal, terbiasa mengerjakan soal, dan tahu perkembangan belajar kamu. 10. Batasi Waktu Pengerjaan Waktu yang diberikan untuk mengerjakan tes literasi bahasa Indonesia di UTBK nanti adalah 45 menit untuk 30 soal. Perhatikan durasi waktu ini dan buat target waktu personal berdasarkan durasi dan pengerjaan soal tersebut. Gimana cara membuat target pengerjaannya? Kamu bisa ikut tryout untuk mengetahui berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan tes literasi bahasa Indonesia ini. — Well, sekarang sudah tahu kan apa saja yang harus kamu lakukan dengan mengikuti tips mengerjakan tes literasi bahasa Indonesia UTBK di atas. Buat kamu yang mau ikut tryout, langsung aja buka ruanguji dari ikuti tryout UTBK sekarang!
Literasi Bahasa Indonesia akan muncul pada Tes Skolastik SNBT 2023. Soal ini hampir mirip dengan PBM dan PPU. Bagaimana cara mengerjakannya? — Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan terbaru, seleksi masuk PTN mengalami beberapa perubahan, terutama pada soal yang diujikan di UTBK/SNBT. Kalau di tahun-tahun sebelumnya kamu bertemu dengan soal Pemahaman Bacaan Menulis PBM dan Pengetahuan dan Pemahaman Umum PPU, maka di tahun 2023 nanti, keduanya digantikan dengan Literasi Bahasa Indonesia. Hmm, apa sih yang mendasari perbedaan antara Literasi Bahasa Indonesia dengan PBM dan PPU? Apakah lebih sulit dan memakan waktu lama untuk menjawabnya? Kita bahas karakteristik, tipe soal, jenis teks, beserta tipsnya, yuk! Perbedaan PBM, PPU, dan Literasi Bahasa Indonesia Kalau kamu masih ingat, materi UTBK sebelumnya lebih menekankan hafalan dibanding daya nalar siswa. Contohnya pada soal PBM dan PPU, yang sering ditanyakan adalah pengetahuan tata bahasa, seperti apa itu frasa, kalimat, konjungsi, wacana, dan lain-lain. Nah, pada Literasi Bahasa Indonesia, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami esensi suatu bacaan. Tetapi, bukan berarti tata bahasa sudah nggak penting buat dipelajarin ya guys. Karena, untuk dapat memahami informasi dari suatu bacaan , kamu harus mengerti kata demi kata serta kalimat yang ada di dalamnya. Baca juga Contoh dan Pembahasan Soal Literasi Bahasa Indonesia SNBT 2023 Bentuk Soal Literasi Bahasa Indonesia Meskipun tergolong baru, bentuk soal Literasi Bahasa Indonesia sebenarnya sudah pernah muncul pada soal AKM Literasi, lho! Berdasarkan hal ini, kisi-kisi Literasi Bahasa Indonesia dapat kita bagi menjadi 2, yaitu berdasarkan jenis teks dan konteks bacaan. 1. Jenis Teks Ada dua teks yang muncul pada soal UTBK/SNBT Literasi Bahasa Indonesia. Pertama, teks informasi yang berbentuk iklan, dokumen pemerintahan, artikel, berita, laporan, infografis, resep, dan ulasan. Selanjutnya, kita juga bakal bertemu dengan teks sastra. Ada teks cerita, fiksi ilmiah, catatan perjalanan, puisi, cerita bergambar, dan sebagainya. Kamu pasti sudah akrab dengan beberapa yang disebutkan tadi dong? Coba deh, kamu baca artikel mengenai jenis-jenis karya sastra di blog ini, seperti pantun, novel, atau cerpen. Biar kamu lebih paham dan siap menghadapi SNBT nanti. Selamat belajar! 2. Konteks Bacaan Sebuah teks pasti mempunyai topik atau konteks bacaan. Nah, kalau di Literasi Bahasa Indonesia, konteks bacaannya terbagi menjadi 3 jenis, yaitu Personal, Sosial Budaya, dan Saintifik. Hmm, kayak gimana sih maksudnya? Topik pada bacaan personal biasanya menyangkut hobi, cita-cita, pengalaman pribadi, peristiwa, gaya hidup, dan profesi. Topik ini sering muncul pada AKM Literasi di tingkat Sekolah Dasar SD. Teksnya lebih singkat, sederhana, dan mudah dipahami. Kemudian ada teks bacaan sosial budaya yang berhubungan dengan transportasi publik, permainan tradisional, perekonomian, kebijakan publik, makanan khas, tarian, dan kebiasaan masyarakat. Terakhir, teks bacaan saintifik. Teks ini menyajikan topik mengenai ruang angkasa, kesehatan atau medis, fisika, ilmu gizi, cuaca, iklim, gejala alam, dan biologi. Konteks bacaan sosial budaya dan saintifik merupakan teks yang kemungkinan paling sering muncul di soal Literasi Bahasa Indonesia UTBK/SNBT 2023. Topik yang dipilih sengaja dibuat lebih kompleks, beragam, dan butuh pemahaman tingkat menengah. Baca juga Ketentuan Terbaru SNMPTN, UTBK, dan Ujian Mandiri 2023 Tipe Soal Kalau tadi sudah bahas bentuknya, sekarang kita lanjut ke tipe atau level soal. Seperti yang disebutkan di awal artikel, Literasi Bahasa Indonesia bertujuan untuk memahami esensi dan menganalisis argumen dari suatu bacaan. Makanya, tipe soal tes ini dibagi menjadi 3 level, yaitu 1. Menemukan Informasi Kita mulai dari level yang paling mudah, alias menemukan informasi. Biasanya, peserta ujian diminta untuk mencari informasi yang eksplisit, tersurat, dan relevan dengan teks yang disajikan. Kamu pasti bisa deh ngerjainnya, gampang kok! 2. Memahami Informasi Level menengah atau sedang yaitu memahami informasi. Akan ada pertanyaan yang berkaitan dengan kesimpulan, menentukan ide pokok, serta memberikan prediksi. Bukan cuma membaca, tetapi kamu juga wajib memahami keseluruhan teksnya. Kira-kira apa sih yang ingin disampaikan pada teks tersebut? Begitu ya. 3. Mengevaluasi dan Merefleksi Informasi Sampailah kita pada level tersulit soal Literasi Bahasa Indonesia, yakni mengevaluasi dan merefleksi informasi. Bentuknya bukan cuma teks, melainkan berupa gambar atau infografis. Kalau kamu punya daya nalar dan literasi yang bagus, tipe soal ini tak sesulit yang dibayangkan. Soal di level ini mengharuskan kamu untuk memberi saran atau solusi, menghubungkan informasi dengan pengalaman pribadi, menilai format penyajian atau tata bahasa, serta menentukan pilihan yang paling tepat sesuai dengan isi teks. Strategi Penguasaan Materi Agar dapat memahami esensi dari sebuah teks, kamu perlu waktu yang lama untuk berkonsentrasi supaya bisa menjawab dengan benar. Ternyata, ada 2 teknik membaca teks panjang secara cepat dan efektif. Apa itu? 1. Skimming Skimming adalah metode membaca cepat untuk mengetahui intisari, pokok permasalahan, maupun gagasan umum yang terdapat dalam sebuah teks. Teknik ini cocok dipakai untuk menjawab soal yang kompleks, seperti mengevaluasi dan merefleksi informasi. Langkah-langkah skimming, antara lain Melihat judul teks. Hindari membaca kata per kata. Simak bagian awal dan akhir paragraf. Perhatikan gambar atau infografis yang terdapat pada teks. 2. Scanning Scanning adalah metode membaca untuk menentukan informasi yang relevan berdasarkan kata kunci. Teknik ini sering disebut “membaca loncat”, karena kamu hanya perlu menemukan informasi yang spesifik, bukan membaca keseluruhan teks. Scanning cocok digunakan untuk level soal mencari informasi yang tergolong mudah. Langkah-langkah scanning, antara lain Perhatikan kata kunci yang diminta. Telusuri paragraf dengan cepat. Baca informasi di sekitar kata kunci. Perhatikan kata yang dicetak miring atau tebal. Tips Menjawab Soal Literasi Bahasa Indonesia Untuk menguasai Literasi Bahasa Indonesia, kamu hanya perlu rajin membaca dan berlatih dengan variasi soal yang berbeda. Berikut tips menghadapinya! Baca pertanyaan terlebih dahulu, kemudian membaca teks untuk mempersingkat waktu. Gunakan teknik skimming atau scanning sesuai dengan tipe soal yang dihadapi. Abaikan informasi yang tidak terkandung pada teks supaya kamu tak terkecoh. Tuh, ternyata ada cara cepat buat jawab tes Literasi Bahasa Indonesia. Kalau mau tahu lebih banyak, subscribe YouTube Channel Ruangguru ya! Semua tentang SNBT 2023 dibahas lengkap sampai ke akar-akarnya. Dijamin seru, nggak membosankan, dan bikin kamu paham! — UTBK/SNBT tinggal sebentar lagi nih. Kamu nggak mau siap-siap lebih awal gitu? Ikutan kelas gratis di Brain Academy, yuk. Bisa online atau datang langsung ke cabang terdekat dari kotamu. Fasilitasnya lengkap, bisa bantu lolos ke jurusan dan PTN yang kamu pengenin!
Teks 1 Pahamilah teks berikut untuk menjawab pertanyaan 1—4! Najwa Shihab, Presenter Kondang Mata Najwa Najwa Shihab merupakan presenter kondang dan sangat terkenal di Indonesia. Acara yang dibawakannya, yaitu "Mata Najwa" disiarkan di stasiun televisi Trans 7. Sebelumnya acara tersebut tayang di Metro TV. Najwa Shihab juga terkenal dengan kepiawaiannya dalam mewawancarai tokoh-tokoh penting. Presenter yang sering dipanggil dengan nama "Nana" ini sering menjadi trending di twitter karena isu-isu yang dibahasnya di "Mata Najwa". la juga sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat bintang tamu tak dapat berkutik. Najwa Shihab lahir di Makassar, 16 September 1977, dari pasangan Quraish Shihab dan Fatmawati Assegaf. Ayahnya adalah tokoh terkenal, seorang cendekiawan muslim Indonesia yang dikenal sebagai Prof. Dr. Quraish Shihab. Najwa Shihab adalah anak kedua dari lima bersaudara. Dia menikah dengan Ibrahim Sjarief Assegaf dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Izzat Assegaf dan Namiya. Najwa Shihab mengenyam pendidikan dasar di SD Madrasah lbtidaiyah Ml Nurul Hidayah. la melanjutkan pendidikannya di SMP Al-Ikhlas di wilayah Jakarta Selatan. Setelah lulus dari SMP, dia masuk ke SMA Negeri 6 Jakarta Selatan. Sejak muda, Najwa Shihab sudah terlihat memiliki potensi yang luar biasa. Ketika SMA, Najwa Shihab terpilih sebagai siswa yang berangkat ke Amerika selama satu tahun dalam program bernama AFS yang dikelola oleh Yayasan Bina Antarbudaya. Selepas SMA, Najwa Shihab melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia. Ia mengambil jurusan llmu Hukum dan menjadi alumni pada tahun 2000. Setelah lulus, Najwa Shihab memilih terjun dalam dunia jurnalistik ketimbang menjadi pengacara. Baginya pekerjaan sebagai jurnalis merupakan pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya. Najwa Shihab memulai kariernya dengan menjadi presenter di Metro TV. Dia dianugerahi penghargaan dari PWI Persatuan Wartawan Indonesia karena laporan-laporannya ketika menjadi reporter bencana Tsunami di Aceh sangat menginspirasi. Najwa Shihab merupakan reporter pertama yang berhasil melaporkan kondisi setelah Tsunami Aceh. Dari liputannya itulah Najwa dinilai memberi andil yang sangat berarti dalam kepedulian dan juga rasa empati masyarakat luas terhadap tragedi tsunami yang banyak memakan korban jiwa. Pertanyaan 1 PG Pilihan Ganda Berdasarkan teks tersebut, dijelaskan profesi Najwa Shihab. Manakah kalimat berikut yang menguraikan profesi Najwa Shihab? A. Najwa Shihab lulus di Universitas Indonesia jurusan llmu Hukum tahun 2000. B. Ia selalu bahagia menjadi ibu rumah tangga saja, tanpa harus memikirkan masalah pekerjaan. C. Dia hanya menjadi presenter TV untuk acara "Mata Najwa" yang pernah disiarkan di Metro TV. D. Awal kariernya, ia menjadi presenter di Metro TV. Selanjutnya, Najwa Shihab menjadi jurnalis yang terkemuka di Indonesia. Jawaban Pertanyaan 1 Kalimat yang menguraikan profesi Najwa Shihab, yaitu "Awal kariernya, ia menjadi presenter di Metro TV. Selanjutnya, Najwa Shihab menjadi jurnalis yang terkemuka di Indonesia." Jawaban D Pertanyaan 2 PGK Pilihan Ganda Kompleks PernyataanPengalaman Kerja Najwa ShihabPenghargaan yang Didapatkan Najwa ShihabPendidikan Najwa ShihabPembawa acara di "Mata Najwa" yang disiarkan di stasiun televisi Trans Shihab melanjutkan pendidikannya di Universitas dianugerahi penghargaan dari PWI Persatuan Wartawan Indonesia.Najwa Shihab memilih terjun dalam dunia jurnalistik ketimbang dunia hukum. Pertanyaan 3 PGK Pilihan Ganda Kompleks Berilah tanda pada pernyataan yang sesuai dengan informasi yang tersaji pada Teks 1! Najwa Shihab memiliki dua saudara kandung. Najwa pernah kuliah di Universitas Sebelas Maret. Sekarang acara "Mata Najwa" disiarkan di Trans 7. Ayah Najwa Shihab adalah cendekiawan muslim Indonesia. Najwa Shibab mengambil jurusan hukum dan menjadi jurnalis. Jawaban Pertanyaan 3Pertanyaan 4 Uraian Setelah lulus, Najwa Shihab memilih terjun dalam dunia jurnalistik ketimbang menjadi pengacara. Bagina pekerjaan sebagai jurnalis merupakan pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya. Njawa Shihab memulai kariernya dengan menjadi presenter di Metro TV. Menurutmu apa yang dimaksud dengan jurnalistik? Jelaskan dengan kalimatmu sendiri! ______________________________________________________________________ Jawaban Pertanyaan 4 Jurnalistik berarti kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau media lainnya. Jurnalistik berhubungan dengan pencarian berita untuk disebarkan kepada khalayak umum. Baca Juga Contoh Soal Asesmen Kompetensi MinimumAKM / Asesmen Nasional Berbasis Komputer ANBK tentang Survei Karakter Peserta DidikAKM Teks 2 Pahamilah infografis berikut untuk menjawab pertanyaan 5-8!Pertanyaan 5 PG Pilihan Ganda Salah satu kiat menabung untuk pelajar berdasarkan infografis tersebut adalah "buat prioritas kebutuhan pokok". Hal yang boleh dilakukan sesuai dengan maksud pernyataan tersebut adalah A. membeli buku tulis untuk mengerjakan PR B. membeli mainan kesukaan kakak C. membeli jajanankesukaan D. membeli koleksi boneka Jawaban Pertanyaan 5 Hal yang boleh dilakukan sesuai dengan maksud pernyataan tersebut adalah membeli buku tulis untuk mengerjakan PR, sebab itu merupakan kebutuhan penting bagi pelajar. Jawaban A Pertanyaan 6 PGK Pilihan Ganda Kompleks Berilah tanda untuk perilaku yang tepat berdasarkan infografis tersebut! Menabung sebagian uang jajan Membeli camilan setiap pulang sekolah Membawa bekal dari rumah supaya tidakjajan di luar Lebih memilih membeli buku untuk dibaca dibandingkan dengan membeli camilan kesukaan Jawaban Pertanyaan 6Pertanyaan 7 PGK Pilihan Ganda Kompleks Berilah tanda untuk menentukan benar atau salah pernyataan berikut berdasarkan Teks 2! PernyataanBenarSalahMenentukan tujuan untuk menabung sebelum mulai menabung Menyimpan uang di bank menggunakan simpanan pelajar Memberikan uang kepada teman yang memintanya Membuat prioritas penggunaan uang jajanmu Jawaban Pertanyaan 7 Pertanyaan 8 Uraian Di masa pandemi sekarang pembelajaran masih berlangsung secara daring online. Davina menerima pembelajaran dan tugas dari bapak dan ibu guru melalui aplikasi menggunakan telepon pintar dan koneksi internet. Saat ini telepon Davina kurang memadai untuk mendukung pembelajaran daring sehingga ia ingin membeli sebuah telepon pintar. Ia tidak ingin menyusahkan orang tuanya. la akan membeli telepon baru itu dengan uang tabungannya sendiri. Sejak kecil ia terbiasa menabung, mulai menabung di celengan hingga sekarang memiliki tabungan pelajar di sebuah bank. Setujukah kamu dengan rencana Davina menggunakan uang tabungannya tersebut? Tepatkah penggunaan uang tabungan Davina? Apa yang seharusnya dilakukan Davina selanjutnya? Kemukakan pendapatmu! _______________________________________________ Jawaban Pertanyaan 8 Saya setuju. Penggunaan uang tabungan Davina sudah tepat, yaitu membeli telepon pintar dengan tujuan untuk mendukung pembelajaran daring yang ia butuhkan saat ini. Hal tersebut merupakan prioritas bagi Davina. Selanjutnya Davina harus meneruskan kebiasaan menabung untuk masa depannya. Baca Juga Contoh Soal Asesmen Kompetensi MinimumAKM / Asesmen Nasional Berbasis Komputer ANBK tentang Survei Lingkungan Teks 3 Pahamilah teks berikut untuk menjawab pertanyaan 9-13! Mengapa Kerja di Sektor Tambang Selalu Jadi Idaman Banyak Orang? Pertambangan merupakan bidang kerja yang memiliki risiko cukup besar. Pekerjaan di titang pertambangan melibatkan banyak pihak dan juga berkaitan langsung dengan eksplorasi alam. Bekerja di area tambang sama halnya dengan bertaruh nyawa. Meski begitu, banyak orang yang tertarik untuk bekerja di pertambangan. Mengapa? Menjadi pekerja tambang berarti harus kuat fisik dan mental. Kondisi geografis lingkungan tambang yang berbahaya juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, pihak tambang menawarkan insentif yang tidak sedikit bagi siapa saja yang ingin bekerja di sektor ini. Besaran gaji yang didapatkan juga tidak dipungkiri menjadi daya tarik utama pada pekerja. Para pekerja akan mendapatkan bayaran yang tinggi dan sepadan dengan resiko yang diambil. Banyak pekerja kasar tambang yang memperoleh gajih lebih dari 7 juta rupiah perbulan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang bekerja di tambang dianggap lebih bergengsi di mata masyarakat. Pekerja tambang yang memiliki posisi rendah sekalipun akan dianggap berharga karena jumlah bayaran yang tidak sedikit. Oleh karena itu, banyak anak muda yang terobsesi dengan sektor pertambangan. Sektor pertambangan dikenal sebagai bidang pekerjaan dengan beban dan resiko yang tidak main-main. Apabila seseorang bertahan di bidang pertambangan dalam waktu yang cukup lama, ia dianggap seorang yang kompeten. Hal ini karena ia mampu bertahan dalam tekanan dengan jangka waktu yang tidak singkat. Fasilitas yang disediakan untuk para karyawan memang berbeda, tergantung pihak perusahaan pertambangan. Para Karyawan ini disediakan mes untuk tempat tinggal mereka selama bekerja. Pertanyaan 9 PG Pilihan Ganda Menjadi pekerja tambang berarti harus kuat fisik dan mental. Pernyataan tersebut berkaitan dengan ... A. kondisi daerah pertambangan yang mudah dijangkau B. lokasi pertambangan dipenuhi oleh kunang-kunang C. jalanan yang rata membuat mobil cepat sampai D. lokasi daerah pertambangan rentan bencana Jawaban Pertanyaan 9 Seorang pekerja tambang harus memiliki fisik dan mental yang kuat. Hal itu disebabkan lokasi daerah pertambangan rentan bencana. Jawaban D Pertanyaan 10 PGK Pilihan Ganda Kompleks Pilihlah pernyataan yang benar berdasarkan Teks 3 dengan memberikan tanda pada kotak! Risiko sebagai pekerja tambang sangatlah tinggi. Gaji pekerja tambang minimal 7 juta rupiah per bulannya. Risiko pekerja tambang sangat minim sehingga gaji pun minim. Mental pekerja tambang haruslah kuat karena jauh dari keluarga. Banyak lulusan pertambangan yang tidak ingin langsung terjun ke lapangan. Gaji yang tinggi membuat banyak anak muda tertarik untuk bekerja di pertambangan. Jawaban Pertanyaan 10 Pertanyaan 11 Isian Salah satu fasilitas yang disediakan untuk pekerja tambang perantauan adalah . . . . untuk tempat tinggal. Jawaban Pertanyaan 11 Mes Pertanyaan 12 PGK Pilihan Ganda Kompleks Teks 3 tersebut mengandung informasi yang berkaitan dengan bidang pertambangan. Kamu dapat memilih beberapa pengetahuan baru dengan memberi tanda pada kolom benar dan salah!PernyataanBenarSalahBanyak pekerja kasar tambang yang memperoleh gaji lebih dari 7 juta rupiah per bulan. Seorang pekerja tambang harus paham risiko yang didaptkan saat bekerja sebagai pekerja tambang. Bekerja sebagai pekerja tambang tidak akan memiliki gaji yang tinggi. Lokasi pertambangan biasanya ada di wilayah yang sulit untuk dilalui. Seorang pekerja tambang tidak perlu merantau. Pertanyaan 13 Uraian Apabila seseorang bertahan di bidang pertambangan dalam waktu yang cukup lama, ia dianggap seorang yang kompeten. Bagaiamana pendapatmu atas penyataan tersebut? Berilah tanda ! Tuliskan alasan yang logis! ______________________________________________________ Pembahasan Pertanyaan 13 Setuju Lokasi pertambangan sangat beresiko bagi para pekerja tambang. Nyawa mereka menjadi taruhannya karena lokasi pertambangan yang sulit dilalui, bahkan terdapat jalan bebatuan dan lumpur yang begitu licin. Jadi, wajar saja jika seseorang yang sudah lama bekerja di bidang ini dianggap kompeten.
Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk meng-identifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah dan menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Pengukuran literasi sains penting untuk mengetahui sejauh mana kemelekan peserta didik terhadap konsep – konsep sains yang telah dipelajarinya. Selama hampir 20 tahun terakhir sejak dirilis oleh PISA, literasi sains peserta didik di Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk 1 menemukan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik; 2 mencari informasi yang relevan dengan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik; dan 3 mengkaji sejumlah teori dasar yang relevan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, artikel-artikel, catatan-catatan, dan laporan-laporan dan sumber informasi lainnya yang berkaitan dengan rendahnya literasi sains peserta didik. Data yang diperoleh dari hasil studi leteratur tersebut kemudian dikompilasi dan dianalisis berdasarkan kajian tema. Hasil analisis data ditemukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya literasi sains peserta didik diantaranya adalah pemilihan buku ajar, miskonsepsi, pembelajaran yang tidak kontekstual, dan kemampuan membaca peserta didik. Kondisi ini mengharuskan pakar dan praktisi pendidikan Indonesia untuk lebih berbenah lagi dalam merancang dan melaksanakan pendidikan sains, agar mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam berkompetisi diberbagai bidang kehidupan di era revolusi industri pada abad 21 ini. Kata kunci Rendahnya literasi sains, Dimensi literasi sains, Pengukuran literasi sains dan Revolusi industri Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 108 ANALISIS FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA KEMAMPUAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK Husnul Fuadi*, Annisa Zikri Robbia, Jamaluddin, Abdul Wahab Jufri Program Studi Magister Pendidikan IPA, Pascasarjana Universitas Mataram * Corresponding Author Received 25 Oktober 2020 Revised 12 November 2020 Accepted 23 November 2020 Published 29 November 2020 Abstrak Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk meng-identifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah dan menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Pengukuran literasi sains penting untuk mengetahui sejauh mana kemelekan peserta didik terhadap konsep – konsep sains yang telah dipelajarinya. Selama hampir 20 tahun terakhir sejak dirilis oleh PISA, literasi sains peserta didik di Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk 1 menemukan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik; 2 mencari informasi yang relevan dengan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik; dan 3 mengkaji sejumlah teori dasar yang relevan faktor-faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, artikel-artikel, catatan-catatan, dan laporan-laporan dan sumber informasi lainnya yang berkaitan dengan rendahnya literasi sains peserta didik. Data yang diperoleh dari hasil studi leteratur tersebut kemudian dikompilasi dan dianalisis berdasarkan kajian tema. Hasil analisis data ditemukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya literasi sains peserta didik diantaranya adalah pemilihan buku ajar, miskonsepsi, pembelajaran yang tidak kontekstual, dan kemampuan membaca peserta didik. Kondisi ini mengharuskan pakar dan praktisi pendidikan Indonesia untuk lebih berbenah lagi dalam merancang dan melaksanakan pendidikan sains, agar mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam berkompetisi diberbagai bidang kehidupan di era revolusi industri pada abad 21 ini. Kata kunci Rendahnya literasi sains, Dimensi literasi sains, Pengukuran literasi sains dan Revolusi industri PENDAHULUAN Revolusi industri adalah sejarah perkembangan terpenting dalam kehidupan manusia selama tiga abad terakhir Stearns, 2013. Perkembangan teknologi yang terjadi pada era revolusi industri mempengaruhi pola gaya hidup masyarakat global yang mendesak ketersediaan sumber daya manusia yang spesifik dan terampil Puncreobutr, 2016. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini memberikan pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk diantaranya dalam bidang pendidikan Wiyono, 2013. Dari berbagai kajian penelitian menyatakan bahwa pendidikan merupakan indikator kejayaan bangsa Al Aslamiyah et al. 2019. Pendidikan adalah basis utama untuk berkontribusi ke semua sektor dengan menyediakan apa yang diperlukan baik keterampilan maupun pengetahuan Anil, 2019. Keterampilan pada abad 21 menjadi fokus utama pendidikan saat ini, khususnya pada pendidikan IPA Nina Nisrina et al., 2020. Keterampilan ini menjadi kebutuhan dasar dari pembelajaran sains yang saat ini masih kurang tepat dibelajarkan di sekolah Astuti, W. P. et al., 2012. Salah satu keterampilan yang sangat penting untuk diperhatikan agar peserta didik mampu mengaplikasikan sains dengan tepat adalah literasi sains Suryani, A. I. et al., 2017. Deming et al., 2007 menyatakan bahwa kemampuan literasi sains science literacy menjadi salah satu kebutuhan utama peserta didik dalam abad ke 21 ini. Literasi sains secara umum terfokus pada ISSN Print 2502-7069; ISSN Online 2620-8326 Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 109 empat aspek yang saling berhubungan yaitu pengetahuan, konteks, kompetensi, dan sikap. Literasi sains merupakan kemampuan seseorang menerapkan pengetahuannya untuk mengidentifikasi pertanyaan, mengkonstruksi pengetahuan baru, memberikan penjelasan secara ilmiah, mengambil kesimpulan berdasarkan bukti-bukti ilmiah, dan kemampuan mengembangkan pola pikir reflektif sehingga mampu berpartisipasi dalam mengatasi isu-isu dan gagasan-gagasan terkait sains OECD, 2019. Pihak Organisation for Economic Co-operation and Development OECD telah mengumumkan skor PISA Programme for International Student Assessment untuk Indonesia tahun 2018 bidang literasi, matematika dan juga sains. Pengukuran PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa di pendidikan menengah, terutama pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi. Penyerahan hasil PISA 2018 untuk Indonesia telah diberikan Yuri Belfali Head of Early Childhood and Schools OECD kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mendikbud Nadiem Makarim di Gedung Kemendikbud Jakarta dan menetapkan Indonesia berada pada urutan ke 70 dari 78 negara peserta 2019. Selama hampir 20 tahun terakhir sejak PISA merilis hasil kemampuan literasi sains peserta didik di seluruh dunia, Negara Indonesia selalu berada pada urutan bawah. Hal ini menunjukan bahwa kualitas pembelajaran sains di Indonesia jauh di bawah negara-negara anggota OECD Dadi Setiadi, 2014. Berdasarkan hal ini maka perlu adanya upaya untuk membenahi pendidikan dan meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik supaya bisa bersaing di abad 21. Oleh karena itu perlu diidentifikasi apa saja faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik di Indonesia sehingga dapat memunculkan ide atau gagasan untuk bisa membenahinya. METODE Penelitian ini termasuk dalam studi literatur. Jenis data yang dikumpulkan berupa data sekunder berupa hasil-hasil penelitian dari berbagai artikel, sumber pustaka dan dokumen yang sesuai dengan tema faktor penyebab rendahnya kemapuan literasi sains peserta didik. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Zed 2014, pada riset pustaka library research, penelusuran pustaka tidak hanya untuk langkah awal menyiapkan kerangka penelitian research design akan tetapi sekaligus memanfaatkan sumber-sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian. Data-data yang didapatkan, kemudian dikumpulkan, dikompilasi, dikaji, dianalisis, dan disimpulkan sehingga mendapatkan rekomendasi mengenai studi literatur. HASIL DAN PEMBAHASAN Literasi Sains Indonesia Literasi sains merupakan kemampuan seseorang menggunakan konsep sains untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menjelaskan fenomena ilmiah serta menggambarkan fenomena tersebut berdasarkan bukti-bukti ilmiah Bybee et al., 2009. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development OECD tahun 2003, literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam melalui aktivitas manusia. Sedangkan menurut Afriana, J. et al. 2016 Literasi sains merupakan keterampilan yang diaplikasikan untuk mendefinisikan femonena secara sains atau ilmiah. Literasi sains berarah kepada bagaimana peserta didik menggunakan pengetahuan mereka untuk menciptakan sebuah ide baru, konsep baru terhadap sebuah permasalahan secara ilmiah Wulandari, N., & Sholihin, H., 2016. Literasi sains mendukung peserta didik untuk menciptakan prosedur sendiri berdasarkan penyelidikan yang mereka lakukan Irmita, L., & Atun, S., 2018. Menurut American Association for the Advancement of Science AAAS tahun 2013, hal yang penting dalam pembelajaran sains adalah literasi sains. Dalam kaitannya dengan penilaian hasil belajar sains pada aspek kemampuan literasi sains yang mencakup “science processes, science concepts, and situation or context” Harlen, 1999 yang dilakukan OECD dalam PISA tahun 2000 menunjukkan bahwa “kemampuan literasi sains untuk peserta didik SMP Indonesia mencapai skor 393”berada pada urutan “ke-38 dari 41 negara”dan tes PISA tahun 2003 mencapai “skor 395” urutan Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 110 ke-38 dari 41 negara Dadi Setiadi, 2014. Hasil tes yang sama pada tahun 2006 peserta didik Indonesia mencapai skor 393 berada pada urutan 50 dari 57 negara peserta dan termasuk berada pada tingkat 1” OECD, 2007 dan skor sains pada tes PISA tahun 2009 adalah “383 ranking 57 dari 65 negara peserta. Serta pada tahun 2012 tes science yang sama peserta didik Indonesia meraih skor 382 urutan ke 64 dari 65 peserta OECD, 2013. Pada PISA 2015 skor literasi sains peserta didik mengalami sedikit peningkatan dari 382 tahun 2012 menjadi 403 tahun 2015 sekaligus menempatkan Indonesia pada urutan 62 dari 72 negara peserta kemendikbud, 2016. Sedangkan pada PISA tahun 2018 kembali skor literasi sains peserta didik menurun menjadi 396 urutan ke 70 dari 78 negara peserta 2019. Berikut daftar lierasi sains Indonesia mulai tahun 2000 sampai 2018 disajikan dalam tabel 1 dan daftar peserta PISA tahun 2018 disajikan dalam tabel 1. Data literasi sains peserta didik Indonesia tahun 2000-2018 Sumber 2018 Tabel 2. Skor PISA 2018 dan Peringkat Negara di Dunia Berdasarkan Penilaian Kemampuan Sains Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 111 Skor rerata kemampuan sains dari negara OECD 489 Sumber 2019 Berdasarkan data literasi sains pada Tabel 1 dan tabel 2 yang telah dirilis oleh PISA Programme for Internasional Students Assesment, tergambar bahwa kemampuan peserta didik Indonesia dalam bersaing di tingkat Internasional masih perlu ditingkatkan. Bahkan dalam beberapa periode terakhir, Indonesia menempati posisi di bawah negara-negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains peserta didik di Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Teori Dasar tentang Faktor rendahnya Literasi Sains Rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Hayat & Yusuf 2006 lingkungan dan iklim belajar disekolah mempengaruhi variasi skor literasi siswa. Demikian juga keadaan infrastruktur sekolah, sumber daya manusia sekolah dan tipe organisasi serta manajemen sekolah, sangat signifikan pengaruhnya terhadap prestasi literasi siswa. Kurnia et al. 2014 juga mengungkapkan rendahnya literasi sains siswa Indonesia berkaitan erat dengan adamya kesenjangan antara pembelajaran IPA yang diterapkan di sekolah dan tuntutan PISA. Menurut Sumartati 2010 menyebutkan bahwa penyebab rendahnya literasi sains siswa Indonesia disebabkan beberapa hal antara lain yaitu pembelajaran yang bersifat terpusat pada guru teacher centered, rendahnya sikap positif siswa dalam mempelajari sains, terdapat beberapa kompetensi yang tidak disukai responden siswa terkait konten, proses dan konteks. Sejalan dengan Sumartati beberapai teori dasar yang relevan terkait rendahnya literasi sains antara lain; Rendahnya kemampuan literasi sains siswa dapat disebabkan kebiasaan pembelajaran IPA yang masih bersifat konvensional serta mengabaikan pentingnya kemampuan membaca dan menulis sains sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa Norris & Pillips, 2003. Siswa terbiasa hanya mengisi tabel yang telah disediakan oleh guru, sehingga kemampuan siswa dalam menginterpretasikan grafik/tabel juga terbatas Rahayu, 2015. Siswa tidak terbiasa mengerjakan soal tes literasi sains Sariati, 2013. Faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi sains Peserta didik. a. Pemilihan Buku Ajar Selama hampir 20 tahun terakhir sejak dirilis oleh PISA, literasi sains Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Skor literasi sains peserta didik berkisar antara 393 tahun 2000 sampai 396 tahun 2018. Angka ini masih jauh di bawah skor rata-rata Negara anggota OECD yakni 489. Ada beberapa faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik Indonesia yang dikemukakan oleh para peneliti berkaitan dengan hasil PISA Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan literasi sains adalah pemilihan sumber belajar Reni dan Agung, 2019. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irawan Ashri & Hasanah, 2015 yaitu salah satu faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik yang berkaitan langsung dan dekat dengan peserta didik adalah pemilihan sumber belajar. Di Indonesia, literasi sains dalam pembelajaran IPA sebagian besar masih terbatas pada materi buku ajar atau teks saja dari pada melakukan pembelajaran Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 112 langsung. Stake & Easly Aqil, 2018 menyatakan bahwa buku pelajaran digunakan oleh 90% dari semua guru sains dan 90% dari alokasi waktu pembelajaran. Pengetahuan dan penerapan literasi sains yang hanya mengandalkan buku ajar atau teks tekstual belum sepenuhnya menyentuh jiwa peserta didik, akibatnya pelajaran menjadi membosankan dan peserta didik kurang memahami materi pelajaran dalam konteks kehidupan. b. Miskonsepsi Hasil penelitian Mufida dan Teguh 2017 menemukan bahwa penguasaan konsep siswa tentang IPA masih rendah. Adanya tuntutan terselesaikannya materi bahan ajar oleh guru sesuai target kurikulum memaksa siswa harus menerima konsep-konsep IPA yang mungkin belum sepenuhnya dipahami. Hal ini menjadikan banyak konsep-konsep IPA dipahami secara salah miskonsepsi atau hanya sekedar dihafalkan yang pada akhirnya konsep tersebut mudah dilupakan. Pembelajaran IPA di SMP masih dilakukan secara parsial terpisah atau belum terpadu, akibatnya konsep IPA yang diterima oleh siswa juga terpisah. Kecenderungan guru untuk memberikan materi tanpa mengaitkannya dengan kehidupan nyata menyebabkan siswa kesulitan mengaitkan pengetahuan yang telah didapatkan dengan situasi kehidupan nyata. Hal ini terlihat dari jawaban-jawaban siswa yang masih sangat teoritik sesuai dengan konsep materi yang diajarkan di sekolah dan belum mampu mengaplikasikan konsep materi untuk memecahkan masalah-masalah sains yang dijumpai di dalam soal. c. Pembelajaran Tidak kontekstual Permasalahan utama dalam pembelajaran sains yang sampai saat ini belum mendapat pemecahan secara tuntas adalah adanya anggapan pada diri peserta didik bahwa pelajaran ini sulit dipahami dan dimengerti. Hal ini senada dengan hasil riset yang dilakukan oleh Holbrook yang menunjukkan bahwa pembelajaran sains tidak relevan dalam pandangan siswa dan tak disukai siswa. Faktor utama semua kenyataan tersebut sepertinya adalah karena ketiadaan keterkaitan dalam pembelajaran sains. Penekanan pemahaman konsep dasar dan pengertian dasar ilmu pengetahuan tersebut tidak dikaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, padahal Yager dan Lutz mengungkapkan lebih lanjut bahwa sains relevan dengan proses dan produk sehari-hari yang digunakan dalam masyarakat. Hasil penelitian Anna Permanasari 2016 terutama untuk aspek konteks aplikasi sains terbukti hampir dapat dipastikan bahwa banyak peserta didik di Indonesia tidak mampu mengaitkan pengetahuan sains yang dipelajarinya dengan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia, karena mereka tidak memperoleh pengalaman untuk mengkaitkannya. Selain itu, Kemampuan berpikir logis, rasional, serta sistematis siswa juga rendah untuk sebagian besar anak Indonesia. d. Rendahnya kemampuan membaca Salah satu kendala belajar sains lainnya adalah karena rendahnya kemampuan membaca dan memaknai bacaan. Penelitian dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB UNESCO pada tahun 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama "The World’s Most Literate Nations", menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana 2019. Penyebab rendah minat dan kebiasaan membaca itu antara lain kurangnya akses, terutama untuk di daerah terpencil. Hal itu merupakan salah satu yang terungkap dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca Alibaca Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud. Hal senada juga disampaikan politisi Indonesia Fahri Hamzah 2020 dalam diskusinya dengan Akbar Faisal di chanel youtube fahri hamzah official yang menyatakan bahwa literasi rendah karena tradisi membaca jelek, tradisi riset jelek. e. Lingkungan dan iklim belajar Menurut Hayat & Yusuf 2006 lingkungan dan iklim belajar di sekolah mempengaruhi variasi skor literasi siswa. Demikian juga keadaan infrastruktur sekolah, sumber daya manusia sekolah dan tipe organisasi serta manajemen Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 113 sekolah, sangat signifikan pengaruhnya terhadap prestasi literasi siswa. Kurnia et al. 2014 juga mengungkapkan rendahnya literasi sains siswa Indonesia berkaitan erat dengan adamya kesenjangan antara pembelajaran IPA yang diterapkan di sekolah dan tuntutan PISA. Sejauh ini guru masih mengajarkan IPA sebagai mata pelajaran yang terpisah kimia, fisika, biologi, pembelajaran yang dilakukan dikelas lebih berpusat pada guru teacher center sehingga pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri siswa jarang dilatihkan, guru hanya berorientasi pada target penguasaan materi dan tidak mampu mengelola pembelajaran yang berbasis penemuan dan pembelajaran berbasis masalah, siswa sebanyak 40% merasa tidak dilibatkan dalam menemukan konsep IPA dalam pembelajaran. Kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab rendahnya kemampuan literasi sains siswa Didit dan Bibin 2016. Selain itu peserta didik belum terbiasa mengerjakan soal – soal literasi sains. KESIMPULAN Selama hampir 20 tahun terakhir sejak dirilis oleh PISA, literasi sains Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Skor literasi sains peserta didik berkisar antara 393 tahun 2000 sampai 396 tahun 2018. Angka ini masih jauh di bawah skor rata-rata Negara anggota OECD yakni 489. Ada beberapa faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik Indonesia yang dikemukakan oleh para peneliti berkaitan dengan hasil PISA Indonesia. Diantaranya a. Pemilihan buku ajar, b. Miskonsepsi, c. Pembelajaran tidak kontekstual, d. Rendahnya kemampuan membaca, dan e. Lingkungan dan iklim belajar yang tidak kondusif. REFERENSI Afriana, J., Permanasari, A., & Fitriani, A. 2016. Penerapan project based learning terintegrasi STEM untuk meningkatkan literasi sains siswa ditinjau dari gender. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 22, 202-212. Al Aslamiyah, T., Setyosari, P., & Praherdhiono, H. 2019. Blended Learning dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Teknologi Pendidikan. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 22, 109–114. Anggraini, G. 2014. Analisis Kemampuan Literasi Sains Siswa SMA Kelas X di Kota Solok. Prosiding Mathematics and Sciences Forum 2014, 169. Anil, A. 2019. Education In The 21 st Century The Dynamics of Change. The Research Journal of Social Sciences, 103, 128–133. Ardianto, D., & Rubini, B. 2016. Literasi sains dan aktivitas siswa pada pembelajaran IPA terpadu tipe shared. Unnes Science Education Journal, 51. Asyhari, A. 2015. Profil peningkatan kemampuan literasi sains siswa melalui pembelajaran saintifik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 42, 179-191. file///C/Users/ASUS/Downloads/ Astuti, W. P., Prasetyo, A. P. B., & Rahayu, E. S. 2012. Pengembangan instrumen asesmen autentik berbasis literasi sains pada materi sistem ekskresi. Lembar0SCN T0SCN an Ilmu Kependidikan, 411. Bybee, R., McCrae, B., & Laurie, R. 2009. PISA 2006 An assessment of scientific literacy. Journal of Research in Science Teaching The Official Journal of the National Association for Research in Science Teaching, 468, 865-883. Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 114 Deming, Jacqueline R. O’Donnell & Christopher J. Malone. 2007. Scientific Literacy Resurrecting the Phoenix with Thinking Skills. Science Educator. Winter 2012 Vol. 21, No. 2. Ennis, R. H. 2011. The Nature of Critical Thinking An Outline of Critical Thinking Disposition and Abilities. University of Illinois. on line at Fauziah, R., Abdullah, A. G., & Hakim, D. L. 2013. Pembelajaran saintifik elektronika dasar berorientasi pembelajaran berbasis masalah. Innovation of Vocational Technology Education, 92. Guria, A. 2016. Pisa 2015 Result in Focus. 5. Diakses dari http//www. eocd. org/pisa. Hapsari, D. D., Lisdiana, L., & Sukaesih, S. 2016. Pengaruh pembelajaran berbasis proyek berbantuan modul daur ulang limbah pada literasi sains. Journal of Biology Education, 53, 302-309. Irmita, L., & Atun, S. 2018. The Influence of Technological Pedagogical and Content Knowledge TPACK Approach on Science Literacy and Social Skills. Journal of Turkish Science Education, 153, 27-40. I Wayan Merta, I Putu Artayasa, Kusmiyati, Nur Lestari & Dadi Setiadi 2020. PROFIL LITERASI SAINS DAN MODEL PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS. Jurnal Pijar MIPA, 15 3 223-228. Jalmo, T. 2007. Profile Of Science Teachers’ Performances Of Junior High School In Bandar Lampung City In Anticipating Educational Standardization Era. Proceeding of The First International Seminar on Science Education Indonesia University of Education. Kartimi & Liliasari. 2012. Pengembangan Alat Ukur Berpikir Kritis pada Konsep Termokimia untuk Siswa SMA Peringkat Atas dan Menengah. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 12, 21-26. 2019. Skor PISA 2018 Peringkat Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, Ini Posisi Indonesia. diakses 27 Oktober 2020 2019. Literasi Baca Indonesia Rendah, Akses Baca Diduga Jadi Penyebab. dikases 28 Oktober 2020 Lambertus 2009. Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika SD. Forum Kependidikan. 28 2. 136-142. Muhammad, M., & Nurdyansyah, N. 2015. Pendekatan pembelajaran saintifik. Nina Nisrina, A Wahab Jufri & Gunawan 2020. Pengembangan LKPD Berbasis Blended Learning Untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta Didik. Jurnal Pijar MIPA, 153 192-199. Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 115 Nofiana, M., Julianto, T. 2017.Profil Kemampuan Literasi Sains Peserta didik SMP di Kota Purwokerto Ditinjau Dari Aspek Konten, Proses, dan Konteks Sains. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora. 12, 77-84. OECD 2007. Science Competencies for Tomorrow’s World, Volume 1 Analysis. file///C/Users/ASUS/Downloads/ OECD 2013. Assesment and Analitical framework. Mathematic, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy. OECD Publishing. OECD 2019, PISA 2018 Results Volume I What Students Know and Can Do, PISA, OECD Publishing, Paris, Permanasari, A. 2016, October. STEM education Inovasi dalam pembelajaran sains. In Seminar Nasional Pendidikan Sains VI 2016. Sebelas Maret University. Puncreobutr, V. 2016. Education New Challenge of Learning. Humanitarian and Socio-Economic Sciences, 22, 92–97. Purwanto, N. 2007. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung Remaja Rosda Karya Kristyowati, R., & Purwanto, A. 2019. Pembelajaran Literasi Sains Melalui Pemanfaatan Lingkungan. Scholaria Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 92, 183-191. Sani, R. A. 2014. Pembelajaran saintifik untuk implementasi kurikulum 2013. Setiadi, D. 2013. The Improvement of Science Literacy and 2013 Science Curriculum Implementation of Junior High School By Practicing Experimental Design of Student Activities. Makalah Seminar Internasional Pendidikan Sains, Bandung UPI Oktober 2013. Setiadi, D. 2014. Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Literasi Sains dan Implementasinya dalam Kurikulum Sains SMP 2013. Jurnal Pijar Mipa, 91. Setiawan, A. R. 2019. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Biologi sebagai Upaya Melatih Literasi Saintifik. In Prosiding Seminar Nasional Biologi pp. 140-145. Setiawan, A. R. 2020. Penerapan pendekatan saintifik untuk melatihkan literasi saintifik dalam domain kompetensi pada topik gerak lurus di sekolah menengah pertama. Stearns, P. N. 2013. The Industrial Revolution in World History 4th ed. USA Westview Press. Sukowati, D., Rusilowati, A., & Sugianto, S. 2017. Analisis kemampuan literasi sains dan metakogntif peserta didik. Physics Communication, 11, 16-22. Suryani, A. I., Jufri, A. W., & Setiadi, D. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran 5E Terintegrasi Pendekatan Saintifik Terhadap Kemampuan Literasi Sains Siswa Smpn 1 Kuripan Tahun Ajaran 2016/2017. Jurnal Pijar Mipa, 121. Husnul Fuadi et al. 2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5 2 108 – 116 DOI 116 Wiyono, K. 2013. Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis ICT Pada Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Inovasi Dan Pembelajaran Fisika, 22, 123–131. Wulandari, N., & Sholihin, H. 2016. Analisis kemampuan literasi sains pada aspek pengetahuan dan kompetensi sains siswa smp pada materi kalor. Edusains, 81, 66-73. ... Based on previous research, there is low scientific literacy ability caused by several factors, namely teaching materials that are not suitable, there are misconceptions between students, teachers, and also the material presented, learning that is carried out is not contextual, reading skills are still lacking, and climate and environmental conditions unfavorable school Fuadi et al., 2020. In addition, the implementation of learning also affects scientific literacy skills, such as learning strategies, learning models, and learning methods. ...May Firdaw ArifiyyatiNdzani Latifatur Rofi’ah Listyono Listyonop>Education is one of the fields or perspectives that have significant developments in the progress of the times. Technological developments are developing the world of education, called the era of the industrial revolution Therefore, several things must be mastered, namely competence in each student's life and multiliteracy in mental, physical, and intellectual capacities. One is Science Literacy Ability and Higher Order Thinking Skills HOTS. In addition to knowledge competence, students must also have confidence in themselves to do and do well, namely self-efficacy. This study aims to determine the relationship between scientific literacy skills, HOTS, and self-efficacy as mediating variables. This type of research is correlational with the survey method. The sampling technique used is Simple Random Sampling with a sample of the population of class XI SMA students who are studying biology. Techniques and data collection instruments using tests in the form of questions scientific literacy skills and HOTS and statement questionnaires self-efficacy. The research was conducted in March-May 2022 at SMAN 3 Semarang. Analysis of research data using quantitative descriptions. The results of this study are that there is a relationship between scientific literacy ability and HOTS with an influence proportion of there is no relationship between scientific literacy ability and self-efficacy with an influence proportion of there is no relationship between HOTS and self-efficacy influence These factors include students' need for experience answering PISA-like questions and non-contextual learning. This condition is consistent with several research findings that show that the learning process, the selection of teaching materials, the presence of misconceptions, and the weak ability of students to solve non-routine questions all contribute to students' low abilities to solve PISA-type questions Fuadi et al., 2020;Harahap & Surya, 2017;Humaira et al., 2019. The habit of solving problem-solving questions based on real-world contexts must be developed during the schooling process. ...Indonesia's participation in PISA is less satisfactory, particularly in mathematics. Uncertainty and data are two of the PISA content areas being evaluated. Therefore the aim of this study is to analyze students' abilities to solve mathematical problems such as PISA on uncertainty and data content to map student readiness for PISA. This study is kind of qualitative study used a case study design. The sample in this study was 84 students of grade IX junior high school who were selected with a simple random sampling technique. The data collection method employs both test and non-test instruments. The data analysis technique used in this study consist of data reduction, data presentation, and conclusion and verification. The results showed that 689 students scored out of 1344, representing These results show that students' ability to solve math problems such as PISA on uncertainty and data content is in the moderate category. While each material, namely statistics and opportunities, is in the high and low categories. This condition is based on learning that has yet to lead students to contextual problems. With these results, it is hoped that there will be efforts to improve the learning process by involving problems such as PISA as habituation.... Hal ini dapat diketahui bahwa sebagian mahasiswa tidak melihat sampai selesai e-modul. Salah satu kendala dalam belajar sains karena rendahnya kemampuan membaca dan memaknai bacaan Fuadi et al., 2020. Istilah-istilah yang terdapat di e-modul terdapat penjelasannya pada glosarium. ...Mahasiswa menganggap materi asam basa senyawa organik sulit karena konsep yang abstrak dan memuat aspek multi representasi yaitu simbolik, mikroskopis dan makroskopis. Oleh sebab itu, suatu bahan ajar berupa e-modul multi representasi sangat diperlukan agar dapat membantu mahasiswa memahami materi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kelayakan, mengukur respon mahasiswa dan respon dosen terhadap e-modul multi representasi berbasis flip pdf corporate edition pada materi sifat asam basa senyawa organik. Jenis penelitian adalah Research and Development. Model pengembangan analysis, design, development, implementation and evaluation ADDIE yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi hingga tahap pengembangan development. Teknik pengumpulan data adalah teknik kuesioner. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar penilaian kelayakan dan angket respon. Subjek penelitian adalah mahasiswa program studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Tanjungpura angkatan 2019 sebanyak 9 orang untuk uji coba kelompok kecil dan 30 orang untuk uji kelompok besar, serta dua orang dosen pengampu mata kuliah kimia organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul sangat layak dan respon yang sangat baik dari mahasiswa dan dosen. Kelayakan produk berdasarkan penilaian dan tanggapan dari para ahli. Respon mahasiswa dan dosen terhadap e-modul diukur menggunakan angket respon. Hasil penilaian kelayakan sebesar pada aspek materi, pada aspek bahasa dan pada aspek kegrafikan. Persentase respon mahasiswa sebesar pada uji kelompok kecil dan pada uji kelompok besar, serta pada uji respon dosen. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa e-modul multi representasi berbasis flip pdf corporate edition pada materi sifat asam basa senyawa organik dapat digunakan sebagai sumber belajar tambahan.... Hanya saja kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa data PISA 2018 menunjukkan bahwa Indonesia masih menempatkan diri sebagai negara dengan literasi yang rendah. Saat ini Indonesia ada pada posisi ke 6 terbawah 74 dengan jumlah negara peserta 79 negara dengan rata-rata skor Indonesia adalah 371, sehingga peringkat Indonesia turun dari tahun 2015 yang pada saat itu Indonesia menduduki peringkat 64 Fuadi et al., 2020;Hasasiyah et al., 2020. Kemudian dilihat dari indeks literasi sains PISA 2018 Indonesia berada pada posisi 9 terbawah dengan rata-rata skor 396 berbeda halnya dengan tahun 2015, Indonesia duduk pada posisi ke 62, sehingga indeks literasi sains Indonesia dari tahun sebelumnya menurun Ariana et al., 2020;Hidayah & Ulva, 2017;Lestari, 2020. ...I Nengah AndiDesak Made CitrawathiNi Putu Sri Ratna DewiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui rancang bangun, validitas dan kepraktisan media pembelajaran berbasis flipbook pada materi sistem eksresi untuk meningkatkan literasi sains siswa kelas XI SMA. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan mengacu pada model pengembangan ADDIE. Uji validitas dilakukan oleh 1 ahli media dan 1 ahli materi. Uji kepraktisan melibatkan 3 guru biologi dan 12 siswa di SMA Negeri 1 Kintamani. Siswa dibedakan berdasarkan kemampuan yaitu 4 orang siswa berkemampuan tinggi, 4 berkemampuan sedang, dan 4 berkemampuan rendah. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan rancang bangun menghasilkan produk media pembelajaran berbasis flipbook pada materi sistem eksresi untuk meningkatkan literasi sains siswa, validitas media pembelajaran sebesar 84,4% dengan kriteria sangat valid, dan kepraktisan flipbook sebesar 90,6% dengan kriteria sangat praktis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, flipbook yang dikembangkan sangat valid dan sangat praktis sebagai media pembelajaran pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan literasi sains siswa kelas XI SMA.... PISA menetapkan dan menjabarkan komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu 1 mengidentifikasi isu ilmiah yang berada di sekitar siswa, yaitu mengenal isu yang mungkin diselidiki secara ilmiah, mengidentifikasi kata-kata kunci untuk informasi ilmiah, mengenal ciri khas penyelidikan ilmiah; 2 menjelaskan fenomena ilmiah di sekitar maupun di alam, serta dapat mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yang diberikan, mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena dan memprediksi perubahan yang akan terjadi, mengidentifikasi deskripsi, eksplanasi, dan prediksi yang sesuai; 3 menggunakan bukti ilmiah, yaitu menafsirkan bukti ilmiah dan mampu menarik kesimpulan, memberikan alasan yang tepat untuk mendukung atau menolak kesimpulan dan mengidentifikasikan asumsi-asumsi yang dibuat dalam mencapai kesimpulan Fuadi et al., 2020. Berdasarkan hasil laporan dari organisasi pengembangan dan ekonomi melalui PISA Tahun 2000-2018 yang berhubungan dengan kemampuan dalam literasi sains, menempatkan Indonesia pada urutan rendah. ...I Putu Fredy Andi Wiraputra Iw SuastraI Nyoman SudianaLiterasi sains ditingkat sekolah dasar sangat rendah dan berdampak terhadap hasil belajar IPA yang masih berada di bawah rata-rata ketuntasan kriteria minimum untuk itu perlu menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh yang signifikan model pembelajaran SAVI berbantuan mind mapping terhadap literasi sains dan hasil belajar IPA. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan non equivalent post-test only control group design. Data dikumpulkan dengan metode tes essay dan tes pilihan ganda. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial Anava dan Manova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran SAVI berbantuan mind mapping terhadap literasi sains siswa kelas V diperoleh Fhitung sama dengan 38,012 lebih dari Ftabel 3,96. 2 terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran SAVI berbantuan mind mapping terhadap hasil belajar IPA siswa kelas v diperoleh Fhitung sama dengan 42, 393 lebih dari Ftabel 3,96. Secara simultan terdapat pengaruh antara literasi sains dan hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan model pembelajaran SAVI berbantuan mind mapping pada siswa kelas V diperoleh F sama dengan 21, 028; p kurang dari 0,05. Simpulan penelitian ini menunjukkan model pembelajaran SAVI berbantuan mind mapping memberikan dampak positif dan berkontribusi dalam meningkatkan literasi sains dan hasil belajar IPA.... Selain itu beberapa penelitian lalu menunjukkan kurangnya kemampuan literasi sains SMA di berbagai daerah Indonesia. Salah satu faktor penyebab hal rendahnya kemampuan tersebut adalah pemilihan media pembelajaran yang kurang tepat Fuadi et al., 2020;Suparya et al., 2022. Untuk itu penting untuk dilakukan suatu penelitian tentang kemampuan literasi sains siswa pada konsep cahaya dan optik. ...Rony HariantoMedia Pembelajaran Digital Phisycs Module DPM di SMA Analisis Kemampuan Literasi Sains Siswa. Beberapa guru memiliki cara tersendiri dalam mengajarkan konsep cahaya dan optik pada siswa, dengan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh media pembelajaran digital fokus penelitian ini adalah analisis kemampuan literasi sains siswa dalam konsep cahaya dan optik menggunakan media pembelajaran Digital Phisycs Module DPM di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar. Soal-soal dalam tes diberikan dengan bentuk uraian yang sudah disesuaikan dengan indikator kemampuan literasi sains. Responden dalam penelitian ini merupakan 106 siswa yang dipilih dengan kriteria tertentu dari beberapa SMA. Analisis data pada penelitian ini memakai paired sample t-test dengan bantuan software SPSS dan rata-rata skor N-gain. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa. Nilai kemampuan literasi sains siswa pada setiap indikator mengalami peningkatan. Dan nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,71 dengan kategori tinggi. Maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Digital Phisycs Module DPM dapat mengembangkan kemampuan literasi sains siswa. Dengan hasil ini diharapkan media pembelajaran DPM dapat di implementasikan juga pada pembelajaran konsep Muzammil Alfan NasrullahMuhammad Imam SufiyantoAmid the improvement of the teacher education system, it will be required with several significant challenges during the era of society and after the Covid-19 pandemic, which is still not improving, causing teachers to have to adapt to social technology by applying the Blended Learning system. The teaching profession requires skills that are also based on the concepts and theories of science, also requiring expertise in the field they are engaged. This study aims to discover the challenges of teacher professional ethics that enter technological developments in the era of Society after the Covid-19 pandemic. The research method is descriptive qualitative by analyzing directly from the source with a purposive sampling technique which is continued by data collection, observation, interviews, and documentation. The sample used is teachers who actively teach at two levels of education, namely at the MI level and MTS, located in the Sumber Batu area, Pamekasan Regency. The results showed that the teaching profession in society after the Covid-19 pandemic revealed that 1 the teaching profession began to adapt to the development of social media, which continues to increase and varies, 2 the teaching profession after the Covid-19 pandemic must also adapt to the existence of a Blended Learning system that has a combination of face-to-face meetings with online systems. Keywords system, technology, education, professionTia MayasariPaidi PaidiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan literasi sains mata pelajaran Biologi siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Yogyakarta dan menganalisis kemampuan literasi sains mata pelajaran Biologi siswa kelas XI SMA Negeri pada sekolah sangat favorit, favorit dan kurang favorit di Kota Yogyakarta berdasarkan indikator literasi sains PISA 2018. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA dari sebelas SMA Negeri di Kota Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Yogyakarta, SMA Negeri 2 Yogyakarta, SMA Negeri 3 Yogyakarta, SMA Negeri 5 Yogyakarta, dan SMA Negeri 11 Yogyakarta berjumlah 198 siswa yang diperoleh melalui teknik random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes literasi sains pada konten biologi dengan indikator kompetensi PISA 2018. Teknik analisis data menggunakan statistika deskriptif untuk menghitung skor literasi sains yang diperoleh siswa dan statistika inferensial dengan statistika non parametrik yaitu Uji Kruskall Walis untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor literasi sains pada sekolah sangat favorit, favorit, dan kurang favorit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 kemampuan literasi sains siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Yogyakarta pada mata pelajaran Biologi memiliki ratarata skor pada kategori sedang. 2 kemampuan literasi sains siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Yogyakarta pada mata pelajaran Biologi memiliki perbedaan yang signifikan jika ditinjau dari kefavoritan sekolah yakni sekolah sangat favorit memiliki rata-rata skor yang lebih tinggi daripada sekolah favorit dan kurang favoritSwiss German University SGU memiliki komitmen untuk mendukung perkembangan sains dan teknologi pada generasi muda untuk fondasi perkembangan Indonesia. Pandemi virus Corona tidak menghentikan niat mulia untuk mengampanyekan penelitian yang menyenangkan bagi generasi muda. Indonesian Fun Science Award IFSA adalah kompetisi penelitian ilmiah di Indonesia untuk anak SMA sederajat yang mensyaratkan pesertanya untuk mengangkat tema-tema penelitian yang unik, lucu, menyegarkan untuk tujuan-tujuan besar memecahkan permasalahan sosial tertentu yang dapat menjadi ilmu pengetahuan baru bagi kehidupan manusia. Faculty of Life Sciences and Technology Swiss German University FLST-SGU kembali mengadakan IFSA yang ke-4 pada bulan November 2021 – Mei 2022, dengan kombinasi workshop dan demonstrasi eksperimen dari rumah Science from home. Rangkaian kegiatan IFSA ini telah melibatkan secara aktif total 219 peserta dari 18 sekolah serta menjaring 73 penelitian dari 8 provinsi dan 16 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dari 20 finalis, diseleksi kembali 5 penelitian terbaik untuk berkompetisi pada Grand Final IFSA pada tanggal 6 April 2022. Dengan acara IFSA diharapkan akan menumbuhkan jiwa peneliti yang kritis, sistematis, dan kreatif kepada generasi muda Indonesia dan mengedukasi generasi muda bahwa melakukan penelitian merupakan kegiatan yang Rifqi SetiawanTujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan peningkatan kompetensi literasi saintifik siswa setelah diterapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran biologi topik plantae dan animalia di sekolah menengah. Metode penelitian yang dipilih ialah quasi-experimental dengan desain time series. Sampel sebanyak 120 siswa dari sekolah menengah di Kabupaten Kudus diambil menggunakan teknik convenience sampling. Desain penelitian berupa 16 kali pengamatan, yakni 8 kali sebelum diberikan tindakan berupa hasil pretest dan 8 kali setelah diberikan tindakan berupa hasil posttest serta tindakan berupa penerapan pendekatan saintifik ke dalam pembelajaran. Instrumen yang dipakai berupa tes tipe uraian topik plantae dan animalia yang disusun berdasarkan indikator kompetensi literasi saintifik PISA. Hasil yang diperoleh ialah peningkatan kompetensi literasi di kategori sedang dengan nilai sebesar 0,663. Melalui penelitian ini terungkap bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik memungkinkan untuk dipakai melatih literasi saintifik Rifqi SetiawanDisampaikan dalam diskusi bersama Setiya Utari dan Muhammad Gina Nugraha di ruang S-306 Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indoneisa pada 6 September 2016 pukul 1645-1730 WIB. Mufida NofianaLiterasi sains menurut PISA Prgram for international student assessment adalah kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menggambarkan bukti-bukti yang berdasarkan kesimpulan untuk dapat memahami dan membantu pembuatan kesimpulan tentang alam serta perubahan terhadap alam tersebut akibat aktivitas manusia. Literasi sains bersifat multidimensional. Individu yang “melek sains” adalah orang yang menggunakan konsep sains, keterampilan proses, dan nilai dalam membuat keputusan sehari-hari jika berhubungan dengan orang lain atau dengan lingkungannya, serta memahami interlasi anatara sains, teknologi dan masyarakat, termasuk perkembangan social dan ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan profil capaian literasi sains siswa SMP di kota purwokerto yang ditinjaau dari tigas aspek listerasi sains, yakni konten, proses, dan konteks. Penelitian dilakakukan pada siswa kelas 8 di SMP Negeri 1 Purwokerto, SMP Negeri 8 Purwokerto, dan SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto dengan total responden berjumlah 184 siswa. Penelitian dimulai dengan tahap persiapan untuk mendapatkan soal literasi sains tingkat SMP yang valid. Selanjutnya, tahap pengambilan data yang dilakukan dengan mengambil jawaban-jawaban siswa yang mengerjakan soal tes literasi sains selama 90 menit. Tahap terakhir adalah perhitungan presentase capaian per setiap aspek literasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prosentase kemampuan literasi sains siswa SMP di kota purwokerto masih rendah pada 3 aspek literasi sains yaitu aspek konten 53,80%, aspek proses 44,038% dan aspek konteks 35,088%. Rendahnya salah satu aspek literasi sains akan berpengaruh terhadap aspek literasi sains lainnya. Rendahnya pemahaman konsep siswa terhadap pengetahuan sains akan berdampak pada rendahnya aplikasi sains. Saat ini siswa-siswa di tiga SMP di kota purwokerto yang menjadi subyek penelitian hanya memiliki kemampuan mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana. Hasil pengukuran literasi sains yang dilakukan pada siswa-siswa SMP di kota purwokerto dapat menjadi acuan dalam memetakan kemampuan sains IPA dan kualitas pembelajaran sains IPA siswa SMP di kota Purwokerto Kata kunci profil literasi sains; aspek literasi sains Dadi SetiadiAbstrak Kualitas pembelajaran sains tingkat SMP di Indonesia tergolong rendah dengan ditunjukan bukti hasil tes internasional berupa kemampuan literasi sains dimana kemampuan rata-rata peserta didik Indonesia berada pada posisi paling bawah. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan model pembelajaran sains berbasis peningkatan kemampuan literasi sains peserta didik SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, Data kualittatif dianalisis secara deskriptif sedangkan data kuantittaif dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan literasi sains kelompok eksperimen signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pembelajaran pada kelompok eksperimen peserta didik lebih aktif melaksanakan investigasi dan mendiskusikan hasilnya, mengembangkan konteks materi dengan kehidupan dan diperkaya dengan kemampuan mengidentifikasi isu-isu dan fenomena sains, Model pembelajaran dapat dilakasanakan dengan baik jika peran dan fungsi peserta didik dan pendidik dalam pembelajaran sesuai dengan tagihan dari model pembelajaran hasil pengembangan. Pendidik diharapkan dapat menerapkan model tersebut dikarenaka hasil belajar peserta didik tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan literasi sains tetapi juga metode dan keterampilan lmiah, implikasi sains dan teknologi dalam kehidupan sehingga dapat mendukung implementasi kurikulum 2013. Abstract Quality of science instruction of junior high school of Indonesia is grouped into low level pointed out by international test results of literacy science capabilities in which Indonesia students is got in the lowest posisition. The objective of this study is to develop an instruction model based on improving science literacy capabilities of junior high school students. Qualitative and quantitative method were used in this study. Qualitative data were analyzed descriptively whereas and quantitative were analysed by student t test. The results show that Students’ science literacy capability of experiment group is significantly higher than control. The instruction of model developed make students much more active in carrying out investigation and discussion of it’s results, develop context of material with daily life situation. Also extend capability of science issues identification and phenomen of science. The instruction model can be implemented well if the function of students and teacher in the instruction as good as what instruction model needed. Teachers are suggested apllying the model due to it makes students do not only have better capability of science literacy but also develop students’ scientific method, and skills, and science technology implication in society daily life situation, so can support implementation of 2013 word science literacy, junior high school, instructionPengaruh pembelajaran berbasis proyek berbantuan modul daur ulang limbah pada literasi sainsD D HapsariL LisdianaS SukaesihHapsari, D. D., Lisdiana, L., & Sukaesih, S. 2016. Pengaruh pembelajaran berbasis proyek berbantuan modul daur ulang limbah pada literasi sains. Journal of Biology Education, 53, Of Science Teachers' Performances Of Junior High School In Bandar Lampung City In Anticipating Educational Standardization Era. Proceeding of TheT JalmoJalmo, T. 2007. Profile Of Science Teachers' Performances Of Junior High School In Bandar Lampung City In Anticipating Educational Standardization Era. Proceeding of The First International Seminar on Science Education Indonesia University of Learning Untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta DidikLkpd PengembanganBerbasisPengembangan LKPD Berbasis Blended Learning Untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta Didik. Jurnal Pijar MIPA, 153 Reading, Science, Problem Solving and Financial LiteracyOecdOECD 2013. Assesment and Analitical framework. Mathematic, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy. OECD Publishing. A%202012%20framework% OECD 2019, PISA 2018 Results Volume I What Students Know and Can Do, PISA, OECD Publishing, Paris,
pertanyaan yang berhubungan dengan literasi